Lompat ke isi utama

Berita

Bekali Pemilih Pemula, Bawaslu Kota Semarang Tekankan Pancasila, Literasi Digital, dan Tolak Politik Uang

Bawaslu Goes to School ke SMP Negeri 13 Semarang

Semarang — Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Semarang terus memperkuat pendidikan demokrasi bagi generasi muda melalui program Bawaslu Goes to School. Kali ini, kegiatan digelar di SMP Negeri 13 Semarang, Kamis (3/9/2026), dengan membekali siswa kelas IX berbagai pengetahuan mengenai wawasan kebangsaan, nilai-nilai Pancasila, literasi digital, demokrasi, serta pentingnya menolak politik uang sebagai bagian dari kesiapan menjadi pemilih pemula menuju Pemilu 2029.

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari unsur pemerintah kota, KPU Kota Semarang, dan Bawaslu Kota Semarang. Materi yang disampaikan dirancang untuk memberikan pemahaman kepada siswa mengenai hak dan tanggung jawab sebagai warga negara sekaligus membangun karakter pemilih yang cerdas, kritis, dan berintegritas.

Siswa SMP Negeri 13 Semarang

Materi pertama disampaikan Kepala Kesbangpol Kota Semarang, Bambang Pramusinto. Ia menekankan bahwa para siswa yang nantinya masuk dalam kategori pemilih pemula perlu mempersiapkan diri sejak dini. Menurutnya, menggunakan hak pilih bukan hanya persoalan datang ke tempat pemungutan suara, tetapi merupakan bagian dari tanggung jawab warga negara dalam menentukan arah kehidupan demokrasi.

“Hak pilih bukan sekadar kewajiban sebagai warga negara, tetapi merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi. Setiap suara yang diberikan memiliki nilai dan ikut menentukan masa depan bangsa dan negara,” ujar Bambang.

Selain itu, Bambang mengingatkan pentingnya membangun sikap pemilih yang beretika dengan menolak politik uang maupun penyebaran isu SARA. Menurutnya, pendidikan politik sejak usia sekolah diperlukan agar generasi muda memiliki fondasi yang kuat dalam menentukan pilihan politik berdasarkan pertimbangan yang rasional.

“Untuk mempersiapkan Pemilu 2029, anak-anak diharapkan memahami wawasan kebangsaan dan Pancasila, belajar musyawarah mufakat, belajar menolak politik uang dan isu SARA. Ini yang akan membentuk perilaku pemilih pemula dalam hal etika demokrasi,” ujarnya.

Materi selanjutnya disampaikan Anggota KPU Kota Semarang, Novi Maria Ulfah. Dalam sesi tersebut, siswa diperkenalkan dengan konsep pemilih pemula, demokrasi, penyelenggaraan Pemilu, serta peran masyarakat dalam kehidupan demokrasi. Novi menekankan bahwa menjadi pemilih pemula bukan hanya tentang memiliki hak untuk memilih, tetapi juga memahami proses demokrasi dan menggunakan hak pilih secara bertanggung jawab.

“Menjadi pemilih pemula bukan hanya soal memiliki hak pilih, tetapi juga memahami bagaimana Pemilu diselenggarakan dan mengapa suara yang diberikan penting bagi masa depan demokrasi. Karena itu, sejak sekarang adik-adik perlu belajar menjadi pemilih yang cerdas, mandiri, dan bertanggung jawab,” ujar Novi.

Para siswa juga mendapatkan pemahaman mengenai prinsip penggunaan hak pilih yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil, serta pentingnya menggunakan hak pilih secara mandiri tanpa adanya tekanan atau paksaan dari pihak mana pun.

“Pemilihan umum bersifat langsung dan tidak boleh diwakilkan. Tidak ada unsur paksaan dari pihak mana pun, serta rahasia dalam menentukan pilihan,” tegas Novi.

Penyerahan Cinderamata

Sementara itu, Anggota Bawaslu Kota Semarang, Euis Noor Faoziah, menjelaskan bahwa politik uang merupakan salah satu praktik yang dapat merusak kualitas demokrasi karena menggeser pertimbangan pemilih dari kualitas, gagasan, dan rekam jejak calon menjadi pemberian materi atau uang.

“Jangan sampai pilihan kita ditentukan karena uang atau pemberian. Pilihlah calon berdasarkan kualitas, gagasan, rekam jejak, dan apa yang mereka tawarkan untuk masyarakat. Karena ketika suara kita dibeli, maka kita kehilangan kesempatan untuk memilih pemimpin yang benar-benar sesuai dengan harapan kita,” ujar Euis.

Para siswa didorong untuk menjadi pemilih cerdas dengan membangun lingkungan dan komunitas yang menolak politik uang, menyebarluaskan informasi mengenai bahayanya, serta berani mengatakan tidak terhadap segala bentuk praktik politik uang.

“Peran adik-adik adalah harus menjadi pemilih yang cerdas, membentuk komunitas anti politik uang, menyebarluaskan informasi tentang bahaya politik uang, serta secara langsung menolak politik uang,” ujar Euis.

Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Para siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga berkesempatan menyampaikan pertanyaan mengenai berbagai persoalan kepemiluan yang mereka temui di lingkungan sekitar maupun di ruang digital.

Melalui kegiatan Bawaslu Goes to School dan sosialisasi pengawasan partisipatif tersebut, Bawaslu Kota Semarang berharap pendidikan demokrasi dapat ditanamkan sejak dini. Pengetahuan mengenai Pancasila, demokrasi, literasi digital, kepemiluan, serta bahaya politik uang diharapkan menjadi bekal bagi generasi muda untuk tumbuh sebagai pemilih yang cerdas, kritis, berintegritas, dan bertanggung jawab dalam menghadapi Pemilu 2029.*

Penulis: Aditya Bagus

Editor: Fernanda Allice

Foto: Humas