Pemilu Tak Cukup Dicoblos, Bawaslu Kota Semarang Dorong Pemilih Pemula SMA Islam Al-Azhar 14 Jadi Pengawas Partisipatif
|
SEMARANG – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Semarang dorong penguatan kesadaran demokrasi dan pengawasan partisipatif di kalangan generasi muda saat menjadi narasumber kegiatan KPU Kota Semarang Goes to School : Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih yang digelar di Aula SMA Islam Al-Azhar 14 Semarang, Kamis (15/10/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh siswa-siswi SMA Islam Al-Azhar 14 Semarang yang merupakan bagian dari kelompok pemilih pemula. Selain Bawaslu dan KPU Kota Semarang, kegiatan ini juga dihadiri oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Semarang. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman generasi muda mengenai demokrasi dan kepemiluan menjelang Pemilu 2029.
Anggota Bawaslu Kota Semarang, V. Silvania Susanti, hadir sebagai narasumber dan menegaskan bahwa peran pemilih pemula tidak hanya sebatas menggunakan hak pilih di tempat pemungutan suara (TPS), tetapi juga turut mengawal proses demokrasi agar berjalan secara jujur, adil, dan berintegritas.
“Kualitas demokrasi kita di masa depan sangat bergantung pada bagaimana generasi muda hari ini memandang pemilu. Kami mengajak siswa-siswi SMA Islam Al-Azhar 14 Semarang untuk membangun kesadaran kritis, tidak sekadar mencoblos, tetapi juga ikut mengawal agar seluruh proses pemilu berlangsung jujur, adil, dan berintegritas,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, para pelajar diajak memahami pentingnya pengawasan partisipatif sebagai bentuk keterlibatan masyarakat dalam mencegah potensi pelanggaran pemilu. Pemahaman ini mencakup upaya menolak politik uang dan intimidasi, bersikap kritis terhadap informasi di media sosial, serta memverifikasi kebenaran informasi guna mencegah penyebaran hoaks dan disinformasi kepemiluan.
“Pengawasan partisipatif dapat dimulai dari hal sederhana, seperti berani menolak politik uang, tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi, serta mengingatkan lingkungan sekitar untuk bersama-sama menjaga demokrasi. Adik-adik sebagai pemilih pemula juga memiliki peran penting dalam membangun budaya pemilu yang berintegritas,” ujar Silvania.
Selain itu, siswa-siswi diperkenalkan pada peran Bawaslu Kota Semarang dan saluran resmi yang dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi awal mengenai dugaan pelanggaran pemilu sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Kami berharap para pelajar tidak ragu untuk mencari informasi melalui kanal resmi Bawaslu Kota Semarang dan menyampaikan informasi awal apabila mengetahui dugaan pelanggaran pemilu. Tentu, penyampaian informasi tersebut perlu disertai keterangan yang jelas agar dapat ditindaklanjuti sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” tambahnya.
Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud sinergi antara penyelenggara pemilu, pemerintah daerah, dan dunia pendidikan dalam menanamkan nilai-nilai demokrasi sejak dini. Edukasi kepemiluan di lingkungan sekolah diharapkan dapat mendorong para pelajar menerapkan sikap kritis, menjunjung tinggi integritas, serta menyebarluaskan pemahaman demokrasi di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Bawaslu Kota Semarang berkomitmen untuk terus memperluas edukasi demokrasi dan pengawasan partisipatif kepada generasi muda melalui berbagai kegiatan sosialisasi dan pendidikan kepemiluan. Melalui upaya tersebut, pemilih pemula diharapkan tidak hanya memahami hak dan kewajibannya, tetapi juga mampu berperan aktif dalam membangun budaya demokrasi yang berintegritas di Kota Semarang.
Penulis: Evi
Editor: Fernanda
Foto: Humas