5 Menit untuk 5 Tahun: Bawaslu Ajak Aktif Awasi Pemilu
|
Semarang – Semangat bela negara tidak lagi dimaknai semata sebagai perjuangan fisik, melainkan diwujudkan dalam tindakan sederhana sehari-hari. Hal ini mengemuka dalam kegiatan Pemberdayaan Masyarakat dengan tema “Edukasi Bela Negara” yang digelar oleh Kelurahan Pleburan, Rabu (15/4/2026), yang diikuti sekitar 30 anggota PKK.
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Kelurahan Pleburan tersebut dibuka langsung oleh Lurah Pleburan, Agus Warjito, S.Pd. Dalam forum ini, narasumber dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Semarang, Fakthurohman, menekankan bahwa bela negara saat ini bertransformasi menjadi kesadaran kolektif dalam kehidupan bermasyarakat.
“Sekarang bela negara tidak dimaknai dengan mengangkat senjata, tetapi bagaimana kita sebagai warga negara menjalankan kewajiban dengan baik, mulai dari hal sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, mematuhi hukum, hingga berpartisipasi dalam Pemilu,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran keluarga, khususnya para ibu, dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada anak sejak dini. Menurutnya, pendidikan karakter bela negara menjadi fondasi penting agar generasi muda memahami bahwa kebebasan sebagai warga negara harus diimbangi dengan tanggung jawab terhadap penyelenggaraan pemerintahan.
Karakter bangsa yang kuat dibentuk dari nilai-nilai kebangsaan yang bersumber dari Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Sementara itu, Anggota Bawaslu Kota Semarang, V. Silvania Susanti, mengajak masyarakat untuk mengambil peran aktif dalam menjaga kualitas demokrasi, khususnya melalui partisipasi dalam Pemilu dan pengawasan partisipatif.
“5 menit dipilih untuk 5 tahun ke depan. Masyarakat harus menggunakan hak pilih secara bijak,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan masyarakat dalam pengawasan Pemilu merupakan bagian nyata dari bela negara dalam konteks demokrasi. Dengan ikut mengawasi, masyarakat turut menjaga integritas proses Pemilu agar berjalan jujur dan adil.
“Jangan mudah terprovokasi, dan yang paling penting, tolak politik uang,” imbuhnya.
Di depan ibu-ibu PKK, beliau menjelaskan bahwa pengawasan Pemilu bukan hanya menjadi tugas penyelenggara, tetapi juga tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Partisipasi aktif warga, mulai dari menggunakan hak pilih secara bijak hingga melaporkan dugaan pelanggaran, menjadi kunci dalam mencegah terjadinya kecurangan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya edukasi publik untuk memperkuat kesadaran demokrasi sekaligus membangun ketahanan nasional dari tingkat akar rumput. Dengan keterlibatan aktif masyarakat, diharapkan tercipta Pemilu yang bersih, berintegritas, dan mencerminkan kedaulatan rakyat secara utuh.
Penulis : Vika
Editor : Fernanda
Foto : Humas