Bawaslu Ajak Pelajar SMP Negeri 21 Semarang Kenali Demokrasi dan Tolak Politik Uang Sejak Dini
|
SEMARANG – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Semarang mendorong pendidikan demokrasi dimulai sejak bangku sekolah. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Bawaslu Goes to School di SMP Negeri 21 Semarang, yang diikuti 80 siswa.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Bawaslu Kota Semarang menanamkan nilai demokrasi, integritas, kejujuran, serta kesadaran terhadap pentingnya menjaga proses demokrasi sejak dini. Edukasi ini juga menjadi bekal bagi para pelajar yang dalam beberapa tahun ke depan akan memasuki usia sebagai pemilih pemula pada Pemilu 2029.
Kepala SMP Negeri 21 Semarang, Joko Winarno, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menyampaikan terima kasih atas kepercayaan Bawaslu Kota Semarang yang memilih SMP Negeri 21 Semarang sebagai salah satu sekolah dalam pengembangan pendidikan demokrasi.
“Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih atas kepercayaan kepada sekolah kami sehingga ditunjuk sebagai salah satu sekolah dalam pengembangan pendidikan demokrasi,” ujar Joko.
Kegiatan dikemas secara interaktif melalui penyampaian materi, diskusi, dan tanya jawab. Para siswa mendapatkan pemahaman mengenai prinsip penyelenggaraan pemilu yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil (Luber Jurdil), sekaligus pentingnya menjaga integritas dalam kehidupan demokrasi.
Materi disampaikan dari tiga perspektif yang saling melengkapi, yakni wawasan kebangsaan, pendidikan pemilih pemula, dan pengawasan partisipatif pemilu.
Anggota DPRD Kota Semarang, Giyanto, memberikan materi mengenai wawasan kebangsaan dan pembentukan karakter. Ia menekankan pentingnya membangun karakter yang berintegritas serta membiasakan nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Anggota KPU Kota Semarang, Henry Cassandra Gultom, memberikan materi mengenai pendidikan pemilih pemula. Ia mengingatkan bahwa kualitas seseorang sebagai warga negara perlu dibangun mulai dari dirinya sendiri.
“Dalam membangun karakter sebagai warga negara yang baik harus dimulai dari membangun diri sendiri,” ujarnya.
Pada sesi pengawasan partisipatif, Anggota Bawaslu Kota Semarang, Maria Goreti Jutari Risma Hanjayani, mengajak para siswa untuk mulai mengenal peran masyarakat dalam mengawal demokrasi, termasuk membangun sikap tegas terhadap praktik politik uang.
“Ayo bangun pengawasan partisipatif pemilu dan bangun gerakan tolak politik uang sejak dini,” tegas Maria.
Pesan tersebut menjadi penting karena politik uang tidak hanya berkaitan dengan pelanggaran dalam tahapan pemilu, tetapi juga menyangkut pembentukan budaya demokrasi. Karena itu, pemahaman mengenai bahaya politik uang perlu dibangun sebelum seseorang menggunakan hak pilihnya.
Melalui kegiatan tersebut, siswa diperkenalkan bahwa pengawasan pemilu bukan semata-mata menjadi tanggung jawab Bawaslu. Masyarakat memiliki ruang untuk turut menjaga kualitas demokrasi dengan mengenali, mencegah, dan menyikapi potensi pelanggaran sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Pendidikan demokrasi juga diharapkan tidak berhenti pada ruang kelas. Nilai kejujuran, tanggung jawab, keberanian menyampaikan kebenaran, dan sikap menolak politik uang diharapkan dapat dibawa para siswa ke lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
Bawaslu Kota Semarang memandang kelompok pelajar sebagai bagian penting dalam membangun ekosistem pengawasan partisipatif. Meski sebagian besar belum memiliki hak pilih, mereka merupakan calon pemilih yang akan menentukan kualitas demokrasi pada masa mendatang. Karena itu, Bawaslu Goes to School menjadi salah satu pendekatan preventif Bawaslu Kota Semarang untuk memperluas pendidikan pengawasan partisipatif hingga kelompok prapemilih.
Kolaborasi antara Bawaslu, KPU, DPRD, dan satuan pendidikan diharapkan dapat membentuk generasi muda yang tidak hanya memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara, tetapi juga memiliki keberanian untuk menjaga demokrasi dari praktik-praktik yang dapat merusak integritas pemilu.
Dari bangku sekolah, kesadaran itu ditanamkan. Dari generasi muda, demokrasi yang berintegritas diharapkan tumbuh dan terus dijaga menuju Pemilu 2029.
Editor : Humas Bawaslu Kota Semarang
Penulis : Mohamad Zuhdi Anwar