Lompat ke isi utama

Berita

Siapkan Pemilih Pemula 2029, Bawaslu Kota Semarang Goes to School Tekankan Literasi Digital, Pancasila, dan Tolak Politik Uang

Sosialisasi Pengawasan Partisipatif yang digelar di SMP Negeri 11 Semarang

SEMARANG – Menjelang Pemilu 2029, edukasi politik bagi generasi muda perlu dilakukan sejak dini. Para pelajar yang saat ini duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) diproyeksikan akan menjadi bagian dari pemilih pemula pada Pemilu 2029.


Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam program “Bawaslu Kota Semarang Goes to School” melalui kegiatan Sosialisasi Pengawasan Partisipatif yang digelar di SMP Negeri 11 Semarang, Kamis (20/8/2026).


Plh. Kepala SMP Negeri 11 Semarang, Nanang Sungkowo, menyambut baik langkah Bawaslu Kota Semarang yang memberikan edukasi kepemiluan kepada para siswa. Menurutnya, pembekalan mengenai demokrasi dan kepemiluan penting diberikan kepada siswa sebagai persiapan menjadi pemilih pemula.


“Anak-anak yang hadir saat ini, di tahun 2029 nanti akan menjadi pemilih pemula,” ujar Nanang dalam sambutannya.


Ia berharap pengetahuan yang diperoleh siswa tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi dapat diteruskan kepada teman-teman lainnya. Menurutnya, nilai-nilai demokrasi juga dapat diterapkan dalam kehidupan siswa, salah satunya melalui pemilihan Ketua OSIS.
“Harapan saya, materi hari ini tidak berhenti di kalian, nanti bisa disampaikan ke teman-teman yang lain agar memiliki pandangan yang sama terkait materi hari ini. Ini berorientasi juga kepada pemilihan Ketua OSIS, dan ilmu yang disampaikan juga bisa diimplementasikan,” tegasnya.


Dalam kegiatan tersebut, Kepala Kesbangpol Kota Semarang, Bambang Pramusinto, menyampaikan materi mengenai Wawasan Kebangsaan dan Implementasi Pancasila. Ia mengajak para siswa memahami nilai-nilai Pancasila, khususnya Sila Keempat, yang berkaitan erat dengan prinsip musyawarah dan kehidupan demokrasi.


Bambang juga menekankan pentingnya kecakapan siswa dalam menggunakan ruang digital. Menurutnya, media sosial dapat menjadi sarana untuk memperoleh informasi mengenai calon pemimpin, tetapi penggunaannya harus dilakukan secara bijak.

Kepala Kesbangpol Kota Semarang, Bambang Pramusinto, menyampaikan materi mengenai Wawasan Kebangsaan dan Implementasi Pancasila


“Media sosial digunakan untuk kegiatan yang positif, kalau mau memberikan like atau berkomentar harap lebih bijak, karena jejak digital tidak bisa hilang,” pesannya.
Ia menambahkan bahwa keberadaan media sosial tidak dapat dihindari dalam kehidupan generasi muda. Karena itu, yang perlu diperkuat adalah kemampuan untuk memilah dan memahami informasi yang diterima.


“Media sosial tidak bisa kita hindari, yang bisa kita lakukan adalah meningkatkan literasi digital agar kita bisa lebih bijak dalam menggunakannya,” lanjut Bambang.
Selain literasi digital, Bambang mengingatkan para siswa agar tidak mudah terpengaruh oleh praktik politik uang. Ia mendorong calon pemilih pemula untuk mengenali profil, rekam jejak, serta gagasan calon sebelum menentukan pilihan.


“Anak-anak harus belajar dan memahami profil dari calon yang mau kita coblos, harus tahu latar belakangnya, jangan asal dikasih duit lalu dicoblos. Ketika menggunakan suaranya harus paham siapa yang akan dipilih,” tegasnya.


Menurut Bambang, media sosial dapat dimanfaatkan secara positif untuk menelusuri gagasan dan rekam jejak calon pemimpin. Dengan demikian, pemilih tidak hanya menentukan pilihan berdasarkan popularitas atau iming-iming materi, tetapi berdasarkan pertimbangan yang rasional dan bertanggung jawab.


Pesan tersebut kemudian mendapat respons positif dari para siswa. Serovina, salah satu peserta, menceritakan pengalamannya mengikuti pemilihan Ketua OSIS di sekolah. Menurutnya, proses pemilihan pemimpin perlu dilakukan dengan mengedepankan kepentingan bersama.
“Menurut saya, memilih pemimpin harus dilakukan dengan musyawarah, supaya kita bisa menentukan pilihan yang terbaik bersama-sama,” ujar Serovina.


Senada dengan Serovina, Jagadita menilai bahwa proses demokrasi membutuhkan sikap bijaksana, baik dari pemilih maupun calon pemimpin. Pemilih perlu menentukan pilihan secara bertanggung jawab, sementara calon yang terpilih harus mampu menjalankan amanah yang diberikan.


“Sebagai pemilih kita harus bijaksana dalam menentukan pilihan, begitu juga dengan calon yang dipilih harus bijaksana dalam menjalankan tugasnya,” kata Jagadita.


Melalui kegiatan Bawaslu Kota Semarang Goes to School, edukasi kepemiluan diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membentuk generasi muda yang memahami nilai-nilai demokrasi, memiliki literasi digital yang baik, serta berani menolak politik uang.

Foto Bersama


Pembekalan sejak dini juga menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa menjadi pemilih bukan sekadar menggunakan hak suara, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menentukan pemimpin secara cerdas, kritis, dan berintegritas.